BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gagal
nafas adalah ketidakmampuan alat pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi
didalam darah, dengan atau tanpa penumpukan CO2.
Terdapat
6 sistem sistem kegawatan salah satunya adalah gagal nafas, dari 6 sistem tersebut
Gagal nafas menempati urutan pertama, Hal ini dapat dimengerti karena bila
terjadi gagal nafas waktu yang tersedia terbatas sehingga diperlukan ketepatan
dan kecepatan untuk bertindak.
Penatalaksanaan
perawatan gagal nafas memerlukan suatu ketrampilan dan pengetahuan khusus serta
penafsiran dan perencanaan maupun melakukan tindakan harus dilakukan dengan
cepat dan sistematis, oleh karena itu pengetahuan perawat tentang apa dan
bagaimana terjadinya gagal nafas sangat diperlukan.
B. Tujuan
Tujuan
yang akan dicapai dari mempelajari materi ini adalah mahasiswa mampu :
a. Menjelaskan pengertian gagal nafas
b. Menyebutkan penyebab gagal nafas
c. Menyebutkan tanda-tanda gagal nafas
d. Menyebutkan diagnosa keperawatan dan
intervensi keperawatan pada klien dengan gagal nafas
e. Menjelaskan penatalaksanaan pada klien
dengan gagal nafas
f. Menjelaskan tahapan prosedur RJP pada
penatalaksanaan gagal nafas.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. Definisi
Gagal
nafas adalah ketidakmampuan tubuh dalam
mempertahankan tekanan parsial normal O2 dan atau CO2 didalam darah.
(Merenstein, 1995)
Gagal
nafas adalah suatu kegawatan yang disebabkan oleh gangguan pertukaran oksigen
dan karbondioksida, sehingga sistem pernafasan tidak mampu memenuhi metabolisme
tubuh. (Staf pengajar ilmu kesehatan anak, 1985)
B. Etiologi
- Penyebab sentral
- Trauma kepala : contusio cerebri
- Radang otak : encephalitis
- Gangguan vaskuler : perdarahan otak , infark otak
- Obat-obatan : narkotika, anestesi
- Penyebab perifer
- Kelainan neuromuskuler : GBS, tetanus, trauma cervical, muscle relaxans
- Kelainan jalan nafas : obstruksi jalan nafas, asma bronchiale
- Kelainan di paru : edema paru, atelektasis, ARDS
- Kelainan tulang iga/thoraks: fraktur costae, pneumo thorax, haematothoraks
- Kelainan jantung : kegagalan jantung kiri
C. Patofisiologi dan Pathway
Pada
pernafasan spontan inspirasi terjadi karena diafragma dan otot intercostalis
berkontraksi, rongga dada mengembang dan terjadi tekanan negatif sehingga
aliran udara masuk ke paru, sedangkan fase ekspirasi berjalan secara pasif .
Pada
pernafasan dengan ventilasi mekanik, ventilator mengirimkan udara dengan
memompakan ke paru pasien, sehingga tekanan selama inspirasi adalah positif dan
menyebabkan tekanan intra thorakal meningkat. Pada akhir inspirasi tekanan
dalam rongga thoraks paling positif.

A. Manifestasi klinik
Menurut Purnawan (2008)
beberapa tanda dan gejala gagal nafas adalah :
a.
Sianosis (warna kebiruan) dikarenakan rendahnya kadar oksiegen dalam darah
b.
Kebingungan dan perasaan mengantuk akibat tingginya kadar karbondioksida dan
peningkatan keasaman darah
c.
Pernafasan cepat dan dalam, sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan
karbondioksida tapi jika paru-paru tidak berfungsi secara normal maka pola
nafas seperti itu tidak dapat membantu.
d.
Rendahnya kadar oksigen dengan segera bisa menyebabkan gangguan pada otak dan
jantung. Hal ini ditandai dengan penurunan kesadaran atau pingsan; menyebabkan
aritmia jantung yang bisa membawa pada kematian.
e.
Frekunsi nafas lebih dari 40 kali/menit, frekunsi normal nafas adalah 16-20
kali/menit, jika sampai 25 kali/menit, status pasien harus mulai dievaluasi.
f. Kavasitas Vital kurang dari 10-20 ml/kg
Beberapa
gejala gagal nafas bervariasi berdasarkan penyebabnya:
a.
Anak dengan sumbatan jalan nafas karena aspirasi benda-benda asing akan tampak
terengah-engah dan melakukan usaha keras dalam bernafasnya.
b.
Seseorang yang keracunan mungkin tampak tenang sampai dengan koma.
B. Pemeriksaan penunjang
- Hb : dibawah 12 gr %
- Analisa gas darah :
Ø pH
dibawah 7,35 atau di atas 7,45
Ø paO2
di bawah 80 atau di atas 100 mmHg
Ø pCO2
di bawah 35 atau di atas 45 mmHg
Ø BE
di bawah -2 atau di atas +2
-
Saturasi O2 kurang dari 90 %
-
Ro” : terdapat gambaran akumulasi
udara/cairan , dapat terlihat perpindahan letak mediastinum.
C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
Keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan pernafasan ventilator mekanik
adalah :
1.Ketidak
efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
- Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan, proses penyakit
- Ketidakefektifan pola nafas berhubungandengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak tepat, obstruksi selang ETT
- Cemas berhubungan dengan penyakti kritis, takut terhadap kematian
- Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan pemasangan selang ETT
- Resiko tinggi komplikasi infeksi saluran nafas berhubungan dengan pemasangan selang ETT
- Resiko tinggi sedera berhubungan dengan penggunaan ventilasi mekanik, selang ETT, ansietas, stress
- Nyeri berhubungan dengan penggunaan ventilasi mekanik, letak selang ETT
D. Rencana Keperawatan
- Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
Tujuan :
Klien akan memperlihatkan kemampuan meningkatkan dan mempertahankan
keefektifan jalan nafas
Kriteria
hasil :
-
Bunyi nafas bersih
-
Ronchi (-)
-
Tracheal tube bebas sumbatan
Intervensi
|
Rasional
|
1.Auskultasi bunyi
nafas tiap 2-4 jam atau bila diperlukan
2.Lakukan penghisapan
bila terdengar ronchi dengan cara :
a.Jelaskan pada klien
tentang tujuan dari tindakan penghisapan
b.Berikan oksigenasi
dengan O2 100 % sebelum dilakukan penghisapan, minimal 4 – 5 x pernafasan
c.Perhatikan teknik
aseptik, gunakan sarung tangan steril, kateter penghisap steril
d.Masukkan kateter ke
dalam selang ETT dalam keadaan tidak menghisap, lama penghisapan tidak lebih
10 detik
e.Atur tekana
penghisap tidak lebih 100-120 mmHg
f.Lakukan oksigenasi
lagi dengan O2 100% sebelum melakukan penghisapan berikutnya
g.Lakukan penghisapan
berulang-ulang sampai suara nafas bersih
3.Pertahankan suhu
humidifier tetap hangat ( 35 – 37,8 C)
|
Mengevaluasi
keefektifan bersihan jalan nafas
Meningkatkan
pengertian sehingga memudahkan klien berpartisipasi
Memberi cadangan
oksigen untuk menghindari hypoxia
Mencegah infeksi
nosokomial
Aspirasi lama dapat
menyebabkan hypoksiakarena tindakan penghisapan akan mengeluarkan sekret dan
oksigen
Tekana negatif yang
berlebihan dapat merusak mukosa jalan nafas
Memberikan cadangan
oksigen dalam paru
Menjamin kefektifan
jalan nafas
Membantu mengencerkan
sekret
|
2. Gangguan
pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan,proses penyakit, pengesetan
ventilator yang tidak tepat
Tujuan
: Klien akan memperlihatkan kemampuan pertukaran gas yang kembali normal
Kriteria
hasil :
-
Hasil analisa gas darah normal :
Ø PH
(7,35 – 7,45)
Ø PO2
(80 – 100 mmHg)
Ø PCO2
( 35 – 45 mmHg)
Ø BE
( -2 - +2)
-
Tidak cyanosis
Intervensi
|
Rasional
|
1.Cek analisa gas
darah setiap 10 –30 mnt setelah perubahan setting ventilator
2.Monitor hasil
analisa gas darah atau oksimetri selama periode penyapihan
3.Pertahankan jalan
nafas bebas dari sekresi
4.Monitpr tanda dan
gejala hipoksia
|
Evaluasi keefektifan
setting ventilator yang diberikan
Evaluasi kemampuan
bernafas klien
Sekresi menghambat
kelancaran udara nafas
Deteksi dini adanya
kelainan
|
3. Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan kelelahan, pengesetan ventilator yang tidak
tepat, peningkatan sekresi, obstruksi ETT
Tujuan : Klien akan
mempertahankan pola nafas yang efektif
Kriteria hasil :
- Nafas sesuai dengan irama ventilator
- Volume nafas adekuat
- Alarm tidak berbunyi
Intervensi
|
Rasional
|
1.Lakukan pemeriksaan
ventilator tiap 1-2 jam
2.Evaluasi semua
alarm dan tentukan penyebabnya
3.Pertahankan alat
resusitasi manual (bag & mask) pada posisi tempat tidur sepanjang waktu
4.Monitor
slang/cubbing ventilator dari terlepas, terlipat, bocor atau tersumbat
5.Evaluasi tekanan
atau kebocoran balon cuff
6.Masukkan penahan
gigi (pada pemasangan ETT lewat oral)
7.Amankan slang ETT
dengan fiksasi yang baik
8.Monitor suara nafas
dan pergerakan ada secara teratur
|
Deteksi dini adanya
kelainan atau gangguan fungsi ventilator
Bunyi alarm
menunjukkan adanya gangguan fungsi ventilator
Mempermudah melakukan
pertolongan bila sewaktu-waktu ada gangguan fungsi ventilator
Mencegah berkurangnya
aliran udara nafas
Mencegah berkurangnya
aliran udara nafas
Mencegah tergigitnya
slang ETT
Mencegah
terlepasnya.tercabutnya slang ETT
Evaluasi keefektifan
pola nafas
|
A
= AIRWAY (JALAN NAFAS)
1. Tempatkan klien dengan posisi telentang
(dengan punggung) pada permukaan yang keras dan rata.
2. Posisi kepala dengan tepat dan buka jalan
nafas dengan meletakkan tangan penolong pada dahi dan letakkan jari (bukan ibu
jari) dari tangan yang lain dibawah tulang rahang bawah dekat pertengahan dagu.
Hati – hati, jangan terlalu mendorong dahi terlalu jauh kebelakang atau memberikan tekanan terlalu kuat pada
rahang bagian bawah. Pastikan bibir anak terbuka, kemudian angkat dan miringkan
sedikit kepala kebelakang untuk
menposisikan titik langit – langit hidung agar memudahkan pemberian O2. Posisi ini penting untuk mengalirkan udara
masuk batang tenggorokan kemudian menuju ke paru-paru.
3. Jika terdapat muntahan, bersihkan mulut
klien sebelum memberikan bantuan pernafasan.
4. Bersihkan sekret atau muntahan dengan
jari atau spuit balon setelah memiringkan kepala klien. Jika menggunakan spuit
balon, peras dulu sebelum meletakkannya kedalam mulut, kemudian lepaskan
tekanan balon untuk memindahkan meterial.
a.
Jika penolong melihat objek (sekret atau muntahan), masukkan tangan lain ke dalam mulut.
b.Gerakkan
/ pindahkan jari ke arah anda ke dalam bagian belakang tenggorokan. Tindakan
ini akan membantu membuang benda asing.
B
= BREATING (PERNAFASAN)
1. Jika mulut sudah bersih, kembalikan posisi
kepala dan obserfasi dada untuk mengetahui apakah klien mulai bernafas.
Tempatkan telinga penolong dekat dengan mulut klien dan lihat, dengarkan,
rasakan nafas anak selama 10 detik.
2. Jika klien tidak mulai bernafas, penolong
harus memberikan bantuan nafas pada klien.
a. Buka lebar mulut klien, tutup hidung dengan
jari dan tutup mulut klien dengan mulut anda.
b. Beri 2 tiupan pelan sekitar 1- 1 ½ detik
lamanya, berhenti sebentar untuk menarik nafas.
Setiap
tiupan nafas harus cukup untuk mengangkat atau mengembangkan dada.
3. Jika penolong tidak melihat pengembangan
dada, kembalikan posisi kepala dan coba lagi. Setelah reposisi kepala, jika
anda tetap tidak melihat pengembangan dada, ikuti untuk perawatan anak
tersedak.
4. Jika klien muntah, miringkan kepala dan
bersihkan mulut dengan jari atau dengan spuit balon.
C
= CIRCULATION (SIRKULASI)
1. Setelah memberikan 2 tiupan nafas dan
melihat pengembangan dada, jika klien belum bernafas periksa nadi klien.
2. Tempatkan jari telunjuk dan jari tengah anda
dengan ringan pada lengan bagian dalam
dekat tubuh klien. Rasakan selama 5 detik. Lakukan ini sebelum kasus
menjadi lebih gawat.
3. Jika
terdapat nadi tetapi tidak ada pernafasan, teruskan berikan nafas
bantuan sampai klien mulai bernafas.
Jika
anda akan memindahkan klien untuk mendapatkan bantuan/menghindari bahaya,
usahakan untuk tidak menghentikan RJP lebih dari 5 detik.
4. RJP dapat dihentikan jika setelah satu ini
muncul :
a. Klien mulai bernafas dan detak jantung mulai
kembali normal.
b. Anda digantikan oleh orang lain yang
dapat melakukan CPR.
c. Anda memperoleh bantuan medis dan sudah
dimulai tindakan lain.
d. Anda kelelahan.
5. Posisi pemulihan (Recovery Position).
Jika
klien mulai bernafas sendiri dan tidak dicurigai adanya injuri, letakkan klien
dengan posisi miring dengan kepala direbahkan pada lengan dan dengan tungkai
sebelah atas ditekuk lututnya dan istirahatkan pada permukaan yang kuat dan
rata.
Catat
gambaran yang terlihat dan segera telepon 118.
Daftar Pustaka
Carpenito,
Lynda Juall (2000), Buku saku Diagnosa
Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta
Corwin,
Elizabeth J, (2001), Buku saku
Patofisiologi, Edisi bahasa Indonesia, EGC, Jakarta
Doengoes,
E. Marilyn (1989), Nursing Care Plans,
Second Edition, FA Davis, Philadelphia
Suprihatin,
Titin (2000), Bahan Kuliah Keperawatan
Gawat Darurat PSIK Angkatan I, Universitas Airlangga, Surabaya
http://belajaraskep.blogspot.com/2012/04/gagal-napas-pada-anak.html#ixzz1uGjYsI7m.
Diakses pada tanggal 8 Mei 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar