LAPORAN PENDAHULUAN
KLIEN DENGAN CEDERA KEPALA
DI RUANG MINOR IGD RS DR. MOEWARDI

Disusun
Oleh :
Isya
Ryan Setyawan
P
27220010 065
KEMENTERIAN
KESEHATAN RI
POLITEKHNIK
KESEHATAN SURAKARTA
DIII
JURUSAN KEPERAWATAN
2012
LAPORAN PENDAHULUAN
KLIEN DENGAN CEDERA KEPALA
A.
Pengertian
Cedera
kepala adalah adanya pukulan atau benturan mendadak pada kepala dengan atau
tanpa kehilangan kesadaran. (Tucker, 1998)
Klasifikasi
Menurut
Mansjoer (2000) cedera kepala dibagi 3 yaitu :
1.
Mekanisme berdasarkan adanya penetrasi durameter.
a.
Trauma tumpul
-
Kecepatan tinggi : tabrakan mobil
-
Kecepatan rendah : terjatuh, dipukul.
b.
Trauma tembus
-
Luka tembus peluru
2.
Tingkat keparahan cedera
a.
Ringan
-
GCS 13 – 15
-
Tidak ada kehilangan kesadaran
-
Tidak adan infoksikasi alkohol atau obat terlarang
-
Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing
-
Pasien dapat menderita abrasi, laserasi atau hematoma kulit kepala
-
Tidak adanya kriteria cedera sedang berat.
b.
Sedang
-
GCS 9 – 12
-
Amnesia pasca trauma
-
Muntah
- Tanda kemungkinan fraktur kranium
(mata rabun, hematimpanum, otorea atau rinorea cairan serebrospinal)
-
Kejang.
c.
Berat
-
GCS 3 – 8
-
Penurunan derajat kesadaran secara progresif
-
Tanda neurologis fokal
-
Cedera kepala penetrasi atau teraba farktur depresi kronium.
3.
Morfologi
a.
Fraktur tengkorak
-
Kranium : linier : depresi atua non depresi, terbuka atau tertutup.
-
Basis : dengan atau tanpa kebocoran cairan serebrospinal dengan atau tanpa
kelumpuhan nervus VII (facialis)
b.
Lesi intrakranial
-
Fokal : epidural, subdural, intra serebral
-
Difus : konkusi ringan, konkusi klasik, cedera aksonal difus.
B.
Patofisiologi
Cedera
kulit kepala
Karena bagian ini banyak mengandung
pembuluh darah, kulit kepala berdarah bila mengalami cedera dalam. Kulit kepala
juga merupakan tempat masuknya infeksi intrakranial. Trauma dapat menimbulkan
abrasi, kontisio, laserasi atau avulsi.
Fraktur
tengkorak
Fraktur tengkorak adalah rusaknya
kontinuitas tulang tengkorak disebabkan oleh trauma. Ini dapat terjadi dengan
atau tanpa kerusakan otak. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan
dampak tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak diklasifikasikan terbuka/tertutup.
Bila fraktur terbuka maka dura rusak dan fraktur tertutup dura tidak rusak.
Fraktur kubah kranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur dan karena
alasan yang kurang akurat tidak dapat ditetapkan tanpa pemeriksaan dengan sinar
X, fraktur dasar tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang
frontal atau lokasi tengah telinga di tulang temporal, juga sering menimbulkan
hemorragi dari hidung, faring atau telinga dan darah terlihat di bawah
konjungtiva. Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika CSS keluar dari telinga
dan hidung.
Cidera
otak
Kejadian cedera “ Minor “ dapat
menyebabkan kerusakan otak bermakna. Otak tidak dapat menyimpan oksigen dan
glukosa sampai derajat tertentu yang bermakna sel-sel cerebral membutuhkan
supalai darah terus menerus untuk memperoleh makanan. Kerusakan otak tidak
dapat pulih dan sel-sel mati dapat diakibatkan karena darah yang mengalir tanpa
henti hanya beberapa menit saja dan kerusakan neuron tidak dapat mengalami
regenerasi.
Komosio
Komosio cerebral setelah cedera kepala
adalah kehilangan fase neuologik sementara tanpa kerusakan struktur. Jika
jaringan otak dan lobus frontal terkena, pasien dapat menunjukkan perilaku yang
aneh dimana keterlibatan lobus temporal dapat menimbulkan amnesia disoreantasi.
Kontusio
Kontusio cerebral merupakan CKB, dimana
otak mengalami memar dan kemungkinan adanya daerah hemoragi. Pasien berada pada
periode tidak sadarkan diri. Pasien terbaring kehilangan gerakan, denyut nadi
lemah, pernafasan dangkal, kulit dingin dan pucat. Hemoragi cranial Hematoma (
pengumpulan darah ) yang terjadi dalam
tubuh kranial adalah akibat paling serius dari cedera kepala. Ada 3 macam
hematoma :
1. Hematoma Epidural (hematoma Ekstradural)
Setelah terjadi cedera kepala, darah
berkumpul di dalam ruang epidural (ekstradural) diantara tengkorak di dura.
Keadaan ini sering diakibatkan dari fraktur tulang tengkorak yang menyebabkan
arteri meningkat tengah putus atau rusak (laserasi), dimana arteri ini berada
diantara dura dan tengkorak daerah frontal inferior menuju bagian tipis tulang
temporal, hemoragi karena arteri ini menyebabkan penekanan pada otak.
2.
Hematoma subdural
hematoma subdural adalah pengumpulan
darah diantara dura dan dasar otak, yang pada keadaan normal diisi oleh cairan.
Hemoragi sub dural lebih sering terjadi pada vena dan merupakan akibat putusnya
pembuluh darah kecil yang menjembatani ruang subdural. Hematoma subdural dapat
terjadi akut, sub akut atau kronik tergantung pada ukuran pembuluh darah yang
terkena dan jumlah perdarahan yang ada. Hematoma subdural akut: dihubungkan
dengan cedera kepala mayor yang meliputi kkontusio atau laserasi. Hematoma
subdural subakut: sekrela kontusio sedikit berat dan dicurigai pada bagian yang
gagal untuk menaikkan kesadaran setelah trauma kepala. Hematoma subdural
kronik: dapat terjadi karena cedera kepala minor dan terjadi paling sering pada
lansia. Lansia cenderung mengalami cedera tipe ini karena atrofi otak, yang
diperkirakan akibat proses penuaan.
3.
Hemoragi Intra cerebral dan hematoma
Hematoma intracerebral adalah perdarahan
ke dalam substansi otak. Hemoragi ini biasanya terjadi pada cedera kepala
dimana tekanan mendesak kepala sampai daerah kecil. Hemoragi in didalam
menyebabkan degenerasi dan ruptur pembuluh darah, ruptur kantong aneorima
vasculer, tumor infracamal, penyebab sistemik gangguan perdarahan. Trauma otak
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Manifestasi klinis cedera otak meliputi :
- Gangguan kesadaran
- Konfusi
- Sakit kepala, vertigo, gangguan pergerakan
- Tiba-tiba defisit neurologik
- Perubahan TTV
- Gangguan penglihatan
- Disfungsi sensorik
- lemah otak
Pathway
C.
Etiologi
Menurut
Carolyn M. Hundak (1996) penyebab cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas
dan jatuh.
D.
Manifestasi klinis
Tanda
dan gejala yang muncul pada pasien cedara kepala (Tucker, 1998) antara lain :
1.
Perubahan tingkat kesadaran (letargi sampai koma)
2.
Perubahan tingkah laku, seperti : cepat marah, gelisah, bingung, kacau mental.
3.
Sakit kepala.
4.
Mual dan muntah.
5.
Perubahan pola pernafasan : nafas kuat dalam, cheyne stokes, henti nafas.
6.
Perubahan motorik dan sensorik fokal : kelemahan progresif, parastesia.
7.
Perubahan pupil : dilatasi.
8.
Postur abnormal : rigiditas dekortikasi, rigiditas desebrasi.
E.
Penatalaksanaan
1.
Dexamethason atau kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral dosis
dengan berat ringannya trauma.
2.
Therapi hiperventilasi (taruma kepala berat) untuk mengurangi vasodilatasi.
3.
Pemberian analgetik.
4.
Pengobatan anti edema dengan larutan hipertonis yaitu manitol 20% atau glukosa
40 % atau gliserol 10 %.
5.
Antibiotika yang mengandung barier darah otak (penisilin) atua untuk infeksi
anaerob diberikan metronodazole.
6.
Pembedahan. (Elyna S.L Siahaan, 1996)
7. Air dan Breathing
- Perhatian adanya apnoe
- Untuk cedera kepala berat lakukan intubasi
endotracheal. Penderita mendapat ventilasi dengan oksigen 100% sampai diperoleh
AGD dan dapat dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap FiO2.
- Tindakan hiperventilasi dilakukan
hati-hati untuk mengoreksi asidosis dan menurunkan secara cepat TIK pada
penderita dengan pupil yang telah berdilatasi. PCO2 harus dipertahankan antara
25-35 mmhg.
8. Circulation
Hipotensi
dan hipoksia adalah merupakan penyebab utama terjadinya perburukan pada CKS.
Hipotensi merupakan petunjuk adanya kehilangan darah yang cukup berat, walaupun
tidak tampak. Jika terjadi hipotensi maka tindakan yang dilakukan adalah
menormalkan tekanan darah. Lakukan pemberian cairan untuk mengganti volume yang
hilang sementara penyebab hipotensi dicari.
9. disability (pemeriksaan neurologis)
- Pada penderita hipotensi pemeriksaan
neurologis tidak dapat dipercaya kebenarannya. Karena penderita hipotensi yang
tidak menunjukkan respon terhadap stimulus apapun, ternyata menjadi normal
kembali segera tekanan darahnya normal
- Pemeriksaan neurologis meliputi
pemeriksaan GCS dan reflek cahaya pupil
F.
Pengkajian Primer
a. Airway
Kaji
adanya obstruksi jalan antara lain suara stridor, gelisah karena hipoksia,
penggunaan otot bantu pernafasan, sianosis
b. Breathing
Inspeksi
frekuensi nafas, apakah terjadi sianosis karena luka tembus dada, fail chest, gerakan otot pernafasan
tambahan. Kaji adanya suara nafas tambahan seperti ronchi, wheezing.
c. Sirkulasi
Kaji
adanya tanda-tanda syok seperti: hipotensi, takikardi, takipnea,
hipotermi,pucat, akral dingin, kapilari refill>2 detik, penurunan produksi
urin.
d. Disability
Kaji
tingkat kesadaran pasien serta kondisi secara umum.
e. Eksposure
Buka
semua pakaian klien untuk melihat adanya luka.
G.
Pengkajian Sekunder
- Kepala
Kelainan
atau luka kulit kepala dan bola mata, telinga bagian luar dan membrana timpani,
cedera jaringan lunak periorbital
- Leher
Adanya
luka tembus leher, vena leher yang mengembang
- Neurologis
Penilaian
fungsi otak dengan GCS
- Dada
Pemeriksaan
klavikula dan semua tulang iga, suara nafas dan jantung, pemantauan EKG
- Abdomen
Kaji
adanya luka tembus abdomen, pasang NGT dengan trauma tumpul abdomen
- Pelvis dan ekstremitas
Kaji
adanya fraktur, denyut nadi perifer pada daerah trauma, memar dan cedera yang
lain
H.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
diagnostik yang dilakukan dalam menegakkan diagnosa medis (Siahaan, 1996)
adalah :
1.
X-ray Tengkorak
2.
CT-Scan
3.
Angiografi
I.
Komplikasi
Menurut
Hundak dan Gallo (1996) komplikasi cedera kepala adalah :
1.
Edema pulmonal
2.
Kejang
3.
Kebocoran cairan serebrospinal
4.
Hemoragi.
J.
Diagnosa Keperawatan
1.
Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema otak.
2.
Potensial tidak efektifnya pola pernapasan berhubungan dengan adanya obstruksi
trakeabronkial.
3.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan ADH.
4.
Resiko tinggi gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah.
5.
Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan kerusakan jaringan otak
dan perdarahan otak atau peningkatan tekanan intrakranial.
6.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
7.
Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya kuman melalui
jaringan.
8.
Gangguan integriatas kulit berhubungan dengan terjadinya kerusakan jaringan
kulit.
9.
Resiko tinggi cedera aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan.
K.
Rencana Keperawatan
1.
Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema otak
Tujuan
:
a.
Tingkat kesadaran dalam batas normal
b.
Fungsi kognitif dan sensori / motorik normal
Intervensi
:
a.
Kaji faktor-faktor yang menyebabkan koma, kesadaran menurun dan peningkatan
TIK.
b.
Monitor dan catat status neurologik tentang frekuensi terjadi dan bandingkan
dengan GCS.
-
Respon mata terhadap rangsangan.
-
Respon verbal terhadap orang, waktu dan tempat.
-
Respon motorik (ekstremitas atas, bawah)
c.
Evaluasi pupil, besar dan responnya terhadap cahaya.
d.
Kurangi stimulus yang tidak berarti.
2.
Potensial tidak efektifnya pola pernapasan berhubungan dengan adanya obstruksi
trakeabronkial
Tujuan
: Pola napas efektif dalam batas normal.
Intervensi
:
a.
Kaji kecepatan, kedalaman frekuensi dan bunyi napas.
b.
Atur posisi pasien dengan posisi semi fowler (150 – 450).
c.
Berikan posisi semi prone lateral atau miring.
d.
Apabila pasien sudah sadar, anjurkan dan ajak latihan napas dalam.
e.
Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi oksigen.
f.
Lakukan dengan tim analis dalam melaksanakan analisa gas darah.
3.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan ADH
Tujuan
:
a.
Cairan elektrolit tubuh seimbang
b.
Turgor kulit baik
Intervensi
:
a.
Monitor asupan haluaran setiap 8 jam sekali.
b.
Berikan cairan setiap hari tidak boleh lebih dari 2000 cc.
c.
Kolaborasi dengan tim analisis untuk pemeriksaan kadar elektrolit tubuh.
d.
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lasix.
4.
Resiko tinggi gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah.
Tujuan
:
a.
Mendemonstrasikan pemeliharaan / kemajuan peningkatan berat badan sesuai tujuan
b.
Tidak mengalami tanda-tanda malnutrisi.
Intervensi
:
a.
Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk dan mengatasi cebresi.
b.
Auskultasi bising usus.
c.
Timbang berat badan sesuai indikasi.
d.
Berikan makan dalam jumlah kecil dan dalam waktu sering dan teratur.
e.
Kaji feces, cairan lambung, muntah darah dan sebagainya.
5.
Gangguan rasa nyaman nyeri kepala berhubungan dengan kerusakan jaringan otak
dan perdarahan otak atau peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan
: Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi.
Intevensi
:
a.
Kaji mengenai lokasi, intensitas, penyebaran, tingkat kegawatan dan
keluhan-keluhan pasien.
b.
Ajarkan latihan tehnik relaksasi.
c.
Buat posisi kepala lebih tinggi.
d.
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan analgetika.
6.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
Tujuan
:
a.
Pasien dapat melakukan kembali atua mempertahankan posisi fimasi optimal.
b.
Tidak ada kontraktur.
c.
Mempertahankan integritas kulit.
Intervensi
:
a.
Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara fungsional pada kerusakan yang
terjadi.
b.
Kaji derajat imobilisasi pasien dengan skala ketergantungan (0-4).
c.
Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan.
d.
Instruksikan atau bantu pasien dengan program masuknya latihan dan penggunaan
alat mobilisasi.
7.
Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya kuman melalui jaringan.
Tujuan
: Tidak terjadi infeksi
Intervensi
:
a.
Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan aseptik dan antiseptik.
b.
Monitor suhu tubuh dan penurunan kesadaran.
c.
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik leukosti, liquor
dari hidung, telinga dan urin.
8.
Gangguan integriatas kulit berhubungan dengan terjadinya kerusakan jaringan
kulit.
Tujuan
:
a.
Pasien dapat mengidentifikasi faktor-faktor resiko terjadinya gangguan integritas
kulit.
b.
Pasien dapat berpartisipasi / kooperatif pada setiap tindakan.
Intervensi
:
a.
Inspeksi area kulit, kemerahan, bengkak, penekanan, kelembaban.
b.
Observasi keutuhan / integritas kulit catata adanya pembengkakan, kemerahan,
bersihkan secara rutin, berikan salf antibiotik sesuai jadwal / instruksi.
c.
Rubah posisi pasien setiap dua jam miring kanan-kiri.
d.
Gunakan pakaian tidur yang kering dan lunak.
9.
Resiko tinggi cedera aspirasi berhubungan dengan kesulitan menelan.
Tujuan
: Cedera aspirasi tidak terjadi.
Intervensi
:
a.
Kaji faktor-faktor penyebab dan pendukungnya.
b.
Kurangi resiko terjadinya aspirasi.
c.
Pertahankan pada posisi miring, jika tidak merupakan kontra indikasi cedera.
d.
Tinggikan kepala.
e.
Beritahu individu dan keluarga penyebab-penyebab dan pencegahan aspirasi.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda
Juall (2000). Aplication of Practice Clinical. 6th Ed. Editor: Ester Monica,
Skp. Alih Bahasa: Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Edisi 6.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Dep Kes RI
(1996). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan.
Jakarta : Penerbit Departeman Kesehatan RI.
Doenges, ME Moorhouse,
MF dan Geiser, Ac. (1999). Nursing Care Plans. Editor: Canoggio, MM. Rencana
Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mansjoer Arief
(2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid 2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Tucker, Susan
Martin. (1998). Patients Care Standars: Nursing Proces, Diagnosis and outcome.
5th Ed. Editor : Ester Monica, Skp. Standar Perawatan Pasien: Proses
Keperawatan, Diagnosa dan Evaluasi. Volume 3. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Siahaan E.S.
(1994). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persyarafan.
Editor : Ni Luh Gede Yasmin Asih. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar